Bos Telegram Sebut WhatsApp Berbahaya dan Sebaiknya Dihapus

CEO Telegram Pavel Durov. (Foto: Instagram)

CEO Telegram, Pavel Durov, baru saja mengunggah tulisan kontroversial melalui blog pribadinya berjudul “Why Using WhatsApp is Dangerous – “Mengapa Menggunakan WhatsApp Berbahaya”. Dalam artikel ini, Durov mengomentari kasus peretasan WhatsApp miliuner dunia, Jeff Bezos, dan menjelaskan alasan WhatsApp memiliki celah untuk diretas. Pemilik aplikasi pesaing WhatsApp, Telegram, ini mengungkapkan bahwa WhatsApp memiliki pintu belakang (backdoors) yang membuka celah jalan bagi peretas untuk mengakses ponsel pengguna WhatsApp.

Durov juga mengomentari langkah WhatsApp yang bukannya meminta maaf atas kasus peretasan aplikasi milik Jeff Besoz melainkan menyalahkan Apple sebagai merek ponsel yang digunakan oleh Besoz.
“Mengingat gentingnya situasi, orang akan mengharapkan Facebook/ WhatsApp untuk meminta maaf dan berjanji untuk tidak menanamkan backdoors di aplikasi mereka di masa depan. Tetapi sebaliknya, mereka mengumumkan bahwa Apple, bukan WhatsApp, yang harus disalahkan. Wakil presiden Facebook mengklaim bahwa iOS, bukan WhatsApp, telah diretas,” tulis Pavel.

Tidak hanya itu, Durov juga memaparkan berbagai dugaan alasan WhatsApp disebutnya sebagai aplikasi berbahaya. Pertama, backup chat WhatsApp yang disimpan oleh pengguna yang tidak ingin kehilangan chatnya, disimpan dalam layanan Cloud yang sering kali tidak dienkripsi sehingga memungkinkan pihak ketiga mengetahui isi chat tersebut. Kedua, backdoors yang menurut Durov berkaitan dengan kepentingan penegakan hukum. Durov berasumsi bahwa WhatsApp diam-diam menanamkan kerentanan di aplikasinya berupa backdoors yang disamatkan sebagai kelemahan keamanan yang tidak disengaja demi kepentingan mengakses obrolan penggunan. Ketiga, implementasi enkripsi yang lemah. Durov mengungkapkan bahwa kode sumber enkripsi WhatsApp disembunyikan dan biner aplikasi dikaburkan sehingga enkripsi sulit dianalisis.

Tidak hanya itu, pad November 2019 ia juga menyoroti kerentanan WhatsApp akibat ditemukannya spyware milik Israel, NSO Group yang membobol pengguna lewat file video. Kasus tersebut mirip dengan kasus yang dialami Jeff Bezos. Kerentanan tersebut, menurut Durov membuktikan WhatsApp memiliki celah keamanan yang memungkinkan agen spionase bisa menggunakan WhatsApp sebagai alat pengawasan.

Beberapa kelemahan WhatsApp ini, selanjutnya membuat Durov menyarankan pengguna untuk menghapus WhatsApp dari ponsel mereka. Baginya, WhatsApp seperti “Kuda Troya” yang bisa dimanfaatkan untuk memata-matai penggunanya. Terlebih lagi, ketika WhatsApp diakuisisi oleh Facebook, Durov semakin pesimis dengan keamanan WhatsApp karena rekam jejak Facebook yang sudah digugat karena penyalahgunaan data penggunanya. “Facebook telah menjadi bagian dari program pengintaian jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Adalah Naif untuk berpikir perusahaan akan mengubah kebijakannya setelah akuisisi,” ujar Pavel Durov pada (22/11/2019).

Durov juga mengutip pernyataan pendiri WhatsApp yang menyebut menyesal telah menjual aplikasi ini ke Facebook karena ia merasa telah menjual privasi pengguna hingga dimanfaatkan untuk keuntungan yang lebih besar. Tidak hanya itu, Durov juga menyebut bahwa PBB telah merekomendasikan para pejabatnya untuk tak lagi berkomunikasi menggunakan aplikasi ini dan menghapusnya. Sejalan dengan itu, presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah meminta orang terdekatnya untuk mengganti ponselnya. Hal ini wajar terjadi mengingat reputasi keamanan WhatsApp sedikit banyak sudah diragukan sejak aplikasi ini dibeli oleh Facebook. Hal itu pula yang membuat WhatsApp mengurungkan niatnya untuk memasang iklan di status WhatsApp. Keputusan WhatsApp ini selama beberapa waktu terakhir membuat publik resah mengenai kemungkinan WhatsApp akan membaca isi percakapan mereka dan memanfaatkannya untuk membuat iklan yang tepat bagi pengguna.

Oleh karena itu, Durov menyarankan jika pengguna tidak ingin foto dan data pribadinya menjadi milik publik, sebaiknya hapuslah aplikasi WhatsApp sekarang. Meski demikian, hal tersebut tentu tidak mudah bagi sebagian besar penggunanya yang sudah bergantung pada WhatsApp untuk komunikasi sehari-hari. Bagaimana menurut Sobat? Tertarik untuk mengikuti saran Pavel Durov?