OJK Resmi Hentikan Pendaftaran Fintech Pinjaman Online Baru

OJK menutup pendaftaran fintech baru. (Foto: Reuters)

Dalam waktu hanya beberapa tahun, keberadaan perusahaan fintech alias pinjaman online terus menjamur. Tahun ini, jumlah perusahaan dengan jasa layanan keuangan tanpa agunan tersebut sudah menembus 164 perusahaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Riswanindi, Kepala Eksekutif Bidang Industri Keuangan Nonbank (IKNB) pada Selasa (25/2).

Ia menambahkan bahwa jumlah perusahaan fintech saat ini bahkan sudah melebihi jumlah perusahaan asuransi. Membludaknya jumlah perusahaan fintech, berakibat pada dibutuhkannya infrastruktur yang dapat mengawasi perusahaan-perusahaan tersebut. Oleh karenanya, Otoritas Jasa Keuangan untuk sementara menutup pendaftaran bagi perusahaan fintech lending.

Penghentian penerimaan pendaftaran ini, menurut Riswanindi, dilakukan untuk memberikan waktu kepada badan terkait untuk mengembangkan dan menyempurnakan sistem pengawasan dan memastikan peningkatan kualitas industri.

Namun demikian, meski jumlah perusahaan fintech terbilang banyak, OJK mencatat hanya 25 perusahaan yang telah mendapatkan izin. Dengan kata lain, 139 lainnya beroperasi tanpa izin dari OJK. Kebanyakan, perusahaan abal-abal ini melabeli perusahaannya dengan “terdaftar di OJK” untuk meyakinkan calon nasabah.

Padahal, “sudah terdaftar” dan “sudah mendapatkan izin” tentu memiliki tingkatan yang jauh berbeda. Perusahaan fintech yang baru “terdaftar” di OJK ini belum benar-benar lolos kualifikasi dan belum bisa menjalankan praktik layanan keuangan kepada pengguna.

Meski demikian, banyak perusahaan yang bandel dan tetap beroperasi meski belum mendapatkan izin. Hal ini berdampak pada tingginya laporan masyarakat terhadap fintech yang dirasa sangat merugikan pengguna dengan skema bunga yang sangat mencekik.

Riswandi mengatakan dalam sehari, ada lebih dari 20 aduan berkaitan dengan fintech. Hal ini menjadi indikator bahwa perkembangan industri fintech masih diselimuti berbagai kasus, sekaligus menunjukkan belum sempurnanya infrastruktur untuk transparansi dan kepuasan pelanggan seluruhnya.